Sejarah Luhu atau sekarang yang di kenal dengan nama Luwu hanya dikenal menurut sumber lisan dari mulut ke mulut, dari kaum ke kaum, Luhu dahulu dinamai WARA tempat kelahiran dari peradaban Bugis pada abad 10 sampai ke 14, dan menjadi Kerajaan terkuat di Sulawesi. Syair-syair La Galigo banyak menyebutkan keadaan Luhu pada masa itu, dan barangkali sejak dahulu mempunyai kekuasaan atas semua kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi.
Sesudah itu secara berangsur-angsur menjadi mundur, yang terjadi di bawah pemerintahan dari Raja Makassar TuniPalangga (Raja Makassar yang ke 9 yang memerintah kurang lebih tahun 1520). Di bawah penguasaan kerajaan Makassar pada masa itu, akhirnya dibebaskan oleh Speelman. Tetapi pada waktu itu sesudahnya seorang Raja Luhu tertangkan di Buton, pada kesempatan mana orang-orang Makassar yang ada di sana yang telah ditaklukan oleh Speelman telah memaksa orang-orang Luhu untuk memeluk agama islam pada akhir abad ke 16 atau abad ke 17.
Sesudah itu jatuhlah kerajaan Makassar dalam tahun 1667 dan sesudah itu memihak kepada kompeni Hindia Timur (O.I.Compagnie). Kemudian juga Tallo pada tahun 1668, dan mengakibatkan Raja dari Tallo dalam tahun 1669 diasingkan ke Jawa. Orang-orang Luhu yang pada mulanya masuk dalam Perjanjian Bongaya ( Bongais Contract ) 18 November 1667, bagaikan mengundurkan sandiwara, dan hanya sekali mengadakan hubungan dengan Bone.
Tetapi perkawinan Raha Luhu WeUmang Opu Larompong dengan raja Bone Lapatau Matinroeri Naga Ulang yang memerintah dari tahun 1696-1714, Luhu sepenuhnya dibawah pengaruh Bone. Puteri mereka Batari Toja Aru Timurung Datu Citta Matinraweri Tippuluwe, menggantikan ibundanya sebagai Raja Luhu. Akan tetapi dia wafat di tahun 1748 tanpa anak, mengakibatkan Luhu sesudah wafatnya bebas dari pengaruh Bone.
Kira-kira dalah tahun 1741, Oost Indise Compagnie (Compagnie Hindia Timur), di bawah admiral Smout melakukan perang dengan Wajo' . Meskipun karena pengaruh Bone berpindah tangan dari kita (vervreemd), tetapi Luhu dalam perang itu memilih berpihak kepada kompeni (Persekutuan). Sesudah itu tidak ada lagi hubungan dengan Luhu.
Semula dalam tahun 1842 duipayakan agar Luhu dapat melakukan pembaharuan atas perjanjian Bongaya, akan tetapi sia-sia. Kemudian dalam tahun 1860 dan tahun 1861 diulangi lagi menugaskan kepada komisarin urusan Bone untuk menggerakkan Luhu membuat kontrak, juga usaha ini mengalami kegagalan. Orang menganggap karena praktek jahat Bone.
Aru Ajamang, saudara perempuan dari Aru lompo ( ibu dari raja pinjaman Bone yang sekarang), dan aru dari Bone yaitu AruPugi Matinroeriaja Benteng, juga kawin dengan putera mahkota Luhu OpuCimpu, dan sekarang diandaikan bahwa juga dalam soal Luhu Bone menentang kita.
Anggapan ini sebenarnya tidak betul karena buka Bone yang menentang kita, tetapi sebenarnya Soppeng dan Wajo' melakukan pengaruh sejak permulaan abad ini. Raja Soppeng TaOnrong Matinroeri Amalana, yang memerintah selama pemerintahan-pemerintahan Inggris (1782-1820) kawin dengan Raja perempuan dari Luhu We TanriawaruMatinroeri Palopo, nenek perempuan dari Raja Luhu yang wafat dalam tahun 1880, To Bariwe Matinroeri Lipomajang. Sedang Raja kedua yang terakhir di Soppeng Tonampeng Aru Singkang Matinroweri Watu, kakak dari Raja yang sekarang Iskandar Aru Larompong dan paman dari yang di sebut diatas yaitu ToBaruwe.
Oleh karena Aru Singkang dan Aru Larompong dari pihak ibu, berasal dari keturunan Wajo', dan dibesarkan keduanya di Wajo', menjelaskan bahwa sekalipun tidak menjelaskan secara terang-terangan, tetapi waktu dapat berbuat (doegelden) yang merugikan kita di Luhu, dan terutama dalam urusan memenuhi Kontrak, Wajo' disaat itu akan memberikan nasehat Luhu supaya menolak.
J.A. Bakkers, Asisten-Resident juga sebelum bulan September 1861, tidak lebih cepat berhasil memutuskan agar Luhu menutup kontrak dengan pemerintah Hindia Belanda kecuali sesudah pada masa itu Raja Soppeng Tonapeng Arung Singkan berjanji untuk bekerjasama, bahkan dengan surat mendesak pemerintah Kerajaan Luhu supaya mengikutinya dalam memihak kepada Gubernemen (Bone dalam tahun 1849 merintangi calon dari Tonampeng sebagai Raja Soppeng, dan akibat dari padanya maka di Soppeng terjadi Perang Saudara).
Perjanjian pertama Luhu ini sesudah tahun 1667, disetujui dan dikuatkan dengan Surat Keputusan tanggal 12 Desember 1861 No.6. Perjanjian ini dibuat dengan Raja Abdul Karim ToBarue yang sesudah wafat dinamai Matinroeri Limpo Majang. Ia meninggal pada tahun 1880, diganti oleh Bibi tertuanya Opu Anrangguru. Raja perempuan sangat tulus dan sangat baik dengan Gubernemen, karena selalu dalam tindakannya melindungi semua pedang. Ia hanya memerintah dalam 3 tahun dan sesudah itu ia wafat pada tahun 1883, digelar Matinroeri Tamalulu. Pengganti Almarhumah adalah Raja yang sekarang bernama Iskandar Aru Larompong, yang pada tanggal 15 September 1887, menutup Kontrak terakhir.
Sekianlah mengenai Sejarah Luhu, menurut yang dapat dikutip dari surat-surat resmi.
Kutipan Buku
J.A. Bakkers, Asisten-Resident juga sebelum bulan September 1861, tidak lebih cepat berhasil memutuskan agar Luhu menutup kontrak dengan pemerintah Hindia Belanda kecuali sesudah pada masa itu Raja Soppeng Tonapeng Arung Singkan berjanji untuk bekerjasama, bahkan dengan surat mendesak pemerintah Kerajaan Luhu supaya mengikutinya dalam memihak kepada Gubernemen (Bone dalam tahun 1849 merintangi calon dari Tonampeng sebagai Raja Soppeng, dan akibat dari padanya maka di Soppeng terjadi Perang Saudara).
Perjanjian pertama Luhu ini sesudah tahun 1667, disetujui dan dikuatkan dengan Surat Keputusan tanggal 12 Desember 1861 No.6. Perjanjian ini dibuat dengan Raja Abdul Karim ToBarue yang sesudah wafat dinamai Matinroeri Limpo Majang. Ia meninggal pada tahun 1880, diganti oleh Bibi tertuanya Opu Anrangguru. Raja perempuan sangat tulus dan sangat baik dengan Gubernemen, karena selalu dalam tindakannya melindungi semua pedang. Ia hanya memerintah dalam 3 tahun dan sesudah itu ia wafat pada tahun 1883, digelar Matinroeri Tamalulu. Pengganti Almarhumah adalah Raja yang sekarang bernama Iskandar Aru Larompong, yang pada tanggal 15 September 1887, menutup Kontrak terakhir.
Sekianlah mengenai Sejarah Luhu, menurut yang dapat dikutip dari surat-surat resmi.
Kutipan Buku
KERAJAAN LUWU
Catatan Gubernur Celebes 1888
D.F. Van Braam Morris
Baca Juga :

No comments:
Post a Comment