"PAHLAWAN DARI TANA LUWU"
KATA PENGANTAR
“HANYA BANGSA YANG MAMPU MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWANNYA MENJADI BANGSA
YANG BESAR”
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat
hidayah-nyalah sehingga kita senantiasa diberi kemampuan dan kekuatan lahir dan
batin dan menjalankan segala aktivitas kita.
Sebagai
generasi penerus perjuangan para pahlawan kita, khususnya Pahlawan dari Tana
Luwu, maka seharusnya kita tetap berkarya, berjuang serta melestarikan semangat
dan nilai-niali luhur yang telah mereka titipkan kepada kita semua. Andi
jhemma, adalah sosok Datu atau Raja yang begitu kharismatik dan selalu
mengutamakan kepengtingan rakyatnya dari pada kepengtingan pribadi. Terbukti
beliau rela meninggalkan Istana Kedatuan Luwu untuk berjuang mempertahankan
Kemerdekaan Indonesia.
“Pantang mundur terus
berjuang” merupakan semboyang Opu Daeng Risadju dalam memimpin dari Tana Luwu
sebelum dan sesudah kemerdekaan. Hal ini melambangkan seorang wanita yang
tangguh, berani dan rela berkorban demi membela tanah air dan tak sedikitpun
rasa getar apaalagi mundur sebelum meraih kemerdekaan.
Begitu pula dengan sosok
Pemuda Luwu, Andi tenriadjaeng merupakan pahlawan yang tak kenal meyerah atau
mundur dalam setiap pertempuran. Hal itu terbukti ketika pasukan KNIL
menggeladah rumah peduduk dan memasuki serta mengotori bahkan merobek-robek
Al-Qur’an di Masjid bua beliaulah yang pertama kali melalakukan reaksi keras
atas kebiadaban tersebut. “Saya Rela Mati Demi Perjuangan Bangsa Indonesia “ .
Pernyataan ini merupakan bukti ynata semangat nasionalisme Andi Tenriadjeng
yang rela mengorbanankan jiwa dan raganya demi perjuangan mempertahan
kemerdekaan RepublikI Indonesia, termasuk para Pahlawan lainnya.
Penulis
:
ASRIANA HAMID
BAB I
PERJUANGAN SRIKANDI INDONESIA DARI TIMUR
“OPU DAENG RISADJU”
“OPU DAENG RISADJU”
Latar Belakang kehidupan
Opu Daeng Risadju yang semasa kecilnya sering disebut
Famajjah yang lahir tepatnya tahun 1880 di Palopo. Beliau berasal dari
keturunan raja-raja “Tellumpoccoe Maraja” atau tiga kerajaan besar
di Sulawesi selatan yaitu luwu, gowa dan bone. Kedua orang tuanya bernama opu
daeng mawellu dan Abdullah to baresseng.
Opu
Daeng Mawellu adalah anak dari Opu Daeng Mallongi, sedangkan Opu Daeng Mallongi
ini adalah anak dari Petta Puji. Petta puji adalah anak dari Makkasau Petta I
kera yang merupakan Raja Bone XXII la Temmasonge Matinroe ri Mallimongeng.
Raja Bone
memerintahkan dari tahun 17449-1775 dan keturunan dari Bau Habibah puteri Syek
Yusuf Tuanta Salamaka ri Gowa. La Temmasonge Matinroe ri Malimongeng adalah
Putera Raja Bone ke XVI yang bernama La Patau Matana Tikka Matinroe ri
Nagaleng. Masa pemerintahannya dari tahun 1696 sampai dengan 1714.dengan
demikian jelas bahwa Opu Daeng Risadju adalah keturunan dari
raja-raja Tellumpoccoe Maraja di Sulawesi Selatan yaitu Luwu, Gowa dan Bone
dengan strata social masyarakaat paling atas.
Gelar Opu Daeng
Risadju bagi masyarakat luwu adalah merupakan identifikasi golongan
bangsawan, sebagaimana halnya yang diberikan kepada pemangku adat. Pada
hakekatnya gelar opu tidak hanya diberikan kepada semua anak bangsawan tinggi
setelah menikah.opu daeng risadju strata sosialnya tergolong bangsawan tinggi.
Opu
Daeng Risadju sebagai seorang puteri bangsawan dari tana luwu ini sudah menjadi
tradisi diajarkan tentang tutrur sapa, tingkah laku dan tata cara bergaul yang
benar-benar penuh makna nilai-nilai budaya luwu sebagai anak bangsawan. Hal
yang seperti itu disalurkan melalui nasehat, pesan-pesan,
cerita dongeng dari orang tua atau iang pengasuh bahkan diajarkan
pula petunjuk dan jiwa kepemimpinan yang senantiasa menampilkan keluhuran budi
yang mampu memupuk simpatik orang banyak.
Dalam berjuang pun semangat
dan jati diri Opu Daeng Risadju selalu mengutamakan
kepentingan pribadinya sebagaimana ungkapan berikut ini:
“Rillebbiremmui Ittello
Maegae Naiya Ittolle Sibatue” ungkapan tersebut member makna lebih
mengutamakan kepentingan pribadi. Hal ni menggarbarkan betapa
kecintaan opu daeng risadju terhadap masyarakat terutama dalam berjuang untuk
keluar dari kesengsaraan dan penderitaan di bawah kekuasaan Belanda.
Opu
Daeng Risadju adalah gadis hitam manis yang linccah dan berwajah serius, nammun
beliau tidak pernah kesunyian hari-harinya penuh dengan kesibukan belajar
mengaji di sabbangparu sampai beliau tammat 30 juz Al-Qur’an. Opu Daeng
Risadjudalam perjuangannya selalu dihiasi oleh ajaran dasar agama islam,
sehingga tidak salah bila beliau fasih dalam tulisan arab dan huruf lontara di
banding huruf latin.
Setelah memasuki
usia dewasa Famajjah (nama kecil beliau) maka dinikahkanlah dengan seorang
ulama dari Bone yakni H. Muhammad Daud, kemudian nama Famaajjah dengan gelar
bangsawannya Opu Daeng Risadju, sesuai dengan tradisi masyarakat
luwu apabila telah memasuki era baru dalam kehidupannya.dengan kerja sama dan
bantuan suaminya maka pengetahuan beliau semakin baik dan memiliki kesempatan
luas untuk lebih mendalamnya secara teratur dan terus-menerus. Pada
akhirnya, Opu Daeng Risadju bukan hanya memiliki pengetaahuan
yang mendalam tentang keislaman, melainkan juga lebih memahami dan menghayati
ajaran Al-Qur’an.
Kedudukan Opu Daeng Risadju
Didalam kehidupan bermasyarakat di kenal adanya Sistem Status Sosial
masyarakat yang merupakan suatu system hirarki. Adanya system tersebut
masyarakat mengenal perbedaan-perbedaan dan kedudukan seseorang sebagai
pendukung yang diperoleh ari masyarakatnya.
Dalam
wilayah Sulawesi Selatan pada hakekaatnya pelapisan social atau lazim dikenal
sebagai suatu system hirarki yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dengan
adanya pelapisan atau tingkatan masyarakat tersebut dapat dibedakan antara keturunan
bangsawan atau keturunan Raja-raja dengan golongan rakyat biasa. Dengan
demikian untuk menelusuri status dan kedudukan seseorang dalam suatu masyarakat
dengan sendirinya akan bertolak pada silsilah keturunannya dari nama sesoarang
tersebut lahir.
Hal ini juga
terjadi dalam kehidupan masyarakat luwu, terdapat perbedaan golongan seperti
golongan kaum bangsawan atau keturunan raja-raja Tomaradeka dan Hamba
Sahaya. .Dengan perbedaan kedudukan ini menjadi dasar penentuan dalam
pengangkatan dan pergantian seorang Raja di Tana Luwu.
“Dari darah
dewa itulah terbentuk masyarakat yang bertingkat-tingkat karena derajat
kebangsawaan seseoarang ditentukan menurut proporsi darah dewa yang mengalir
dalam tubuhnya bercampur dengan darah manusia biasa”.
Berkaitan dengan
tingkatan atau pelapisan dalam kehidupan masyarakat luwu,maka status dan
kedudukan opu daeng risadju dalam masyarakat Tana Luwu merupakan golongan atau
tingkatan berdarah biru atau golongan bangsawan.
Dengan demikian
untuk menulusuri status dan kedudukan Opu Daeng Risadju dalam
masyarakat Tana Luwu dengan sendirinya akan bertolak dari silsilah keturunannya
yang berasal dari keturunan Tellumpoccoe atau keturunan Tiga
Kerajaan Besar di Sulawesi selatan sebagaimana terlijhat pada silsilah keturunan Opu
Daeng Risadju.
Bangsawan dan Kepemimpinan di Tana Luwu
Menurut H.S Ahimsa (1981:88), pada masyarakat Sulawesi Selatan system
hirarki tersebut ditentukan oleh perbedaan control atas keduduakan/status,
kekuasaan dasn kekayaan. Hal ini dimaksudkan bahwa pengakuan dari masyarakat
atau perorangan kepada seseorang ditentukan oleh adanya perbedaan-perbedaan
yang melekat pada diri orang tersebut. Dilihat dari kedudukan, kekuasaan atau
kekayaan yang dimiliki sesorang sehingga mampu membawa dirinya kepada pengakuan
masyarakat sebagai orang yang disegani dan bahkan dengan perbedaan itu juga
dapat mengangkat sesorang untuk menjadi sang pemimpin.
Penetuan ini juga
melekat pada diri pribadi Opu Daeng Risadju yang telah
mendapat pengakuan masyarakatnya dengan diawali oleh proporsi darah
kebangsawanan yang mengalir dalam tubuh beliau. Hal tersebut
terlihat disaat opu daeng risadju diangkat sebagai ketua Cabang PSII di Palopo
(1930).
Beliau dalam
menjalankan kepemimpinannya disamping sebagai seorang bangsawan dia juga
memliki kelebihan dan kemampuan mengobati cacar dan resep kepintaran yang
disebut “Papitajang Ati” (resep kepintaran).
Selain
itu Opu Daeng Risadju mempunyai tanggung jawab yang tinggi
dalam usaha membebaskan rakayt dari penindasan dan penjajahan. Perjuangan
inilah yang mengangkat dirinya kepada jenjang orang disegani realisasinya oleh
masyarakat Opu Daeng Risadju diangkat sebagai pemimpin mereka.
Sosok Opu
Daeng Risadju merupakan bangsawan yang memeliki jiwa kepemimpinan yang
sangat kharismatitik bagi masyarakat Tana Luwu,mulai dari Luwu Selatan,luwu
Utara dan Luwu bagian Timur serta Palopo Ibukota kerajaan luwu.kemampuan dan
kepemimpinan yang melekat pada jiwa dan semangat Opu Daeng Risadju terlihat
pada usaha dan pengorbanan beliau didalam melakukan berbagai aktivitas
perjuangan merintis kemrdakaan Republik Indonesia.
Macam betina dari timur
Dalam darah beliau Opu Daeng Risadju telah mengalir
tetesan darah perjuangan untuk membelah dan mempertahankan tanah kelahirannya
yaitu Bumi Sawerigading pada khususnya dan Republik Indonesia pada umumnya.
Dengan
demikian berbagai pengorbanan yang telah di berikan beliau terhadap tanah dan
semboyan “Pantang Mundur Terus Berjuang” membuat dirinya memperoleh gelar “Macam
Betina dari Timur” yang melambangkan Seorang wanita tangguh, berani dan
rela berkorban demi kepentingan tanah air dan rakyatnya. Terbukti
dengan beberapa kali beliau keluar masuk penjara tetapi dalam dirinya tidak
sedikitpun rasa gentar apalagi mundur sebelum Negara Indonesia meraih
kemerdekaan.
Kobaran api
perjuangan beliau dilandasi oleh tiga pilar utama prinsip perjuangan yaitu :
berpegang teguh kepada ajaran agama islam, tunduk dan patuh pada ajaran datu
“Napusuri datye napumate tau maegae” serta semangat Nasionaalisme
yang tinggi.
Ajaran agama islam
yang teguh dalam diri beliau diperoleh dari orang tuanya yang merupakan
keturunan dari Syek Yusuf. Pengetahuan Opu Daeng Risadju semakin
mendalam karena didukung oleh suaminya yang bersama-sama menjadi pengurus PSII
Cabang Pare-Pare sekitar tahun 1927.
Opu
Daeng Risadju yang diaaktuaalistik melalui konsep dan nilai-nilai budaya yang
sangat tinggi yaitu tunduk dan patuh pada ajaaran datu luwu. Opu Daeng
Risadju adalah tokoh wanita dari Indonesia bagian Timur yang
benar-benar memiliki jiwa yang tangguh, pantang mundur dan semangat
Nasionalisme yang tinggi untuk berjuang demi merintis dan meletakkan dasar
kebebasan bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu kemerdekaan.
Awal Karier Opu Daeng Risadju
Keinginan untuk hidup bebas dari cengkraman kaum penjajah diawal abad ke-XX
merupakan cikal bakal lahirnya organisasi yang bergerak dalam bidang
politik dan paling menonjol yaitu Sarekat Islam (1911) yang telah didirikan
oleh H.Saman Hudi, seorang pedagang Muslim Kaya dari Surakarta, Jawa Tengah.
Serekat Islam merupakan transformasi dari organisasi yang mendahuluinya yaitu
Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tanggal 11 Novemmber 1911.
Unntuk lebih memperluas dan mengembangkan perjuangan, maka pada tanggal 10
September 1912 Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam saat itu
H.samanhudi dan HOS Cokrominoto sebagai Komisaris.
Dengan
demekian tercatat dalam sejarah Opu Daeng Risadju sebagai
wanita pertama kali di Indonesia yang menjadi puncak pimpinan Partai Politik
yang berazaskan Islam. Pada tahun 1930 beliau menghindari Kongres PSII di
Pare-Pare bersama dengan tokoh PSII Pusat dari Batavizaa (Jakarta). Dalam
perjalanan karir beliau memimpin PSII di Palopo beliau dibantu oleh seorang kerbatnya
yang masih remaja, mudehang yang bertugas sebagai Sekretaris.
Kepemimpinan Opu
Daeng Risadju dibutuh PSII menjadi unik dan menarik karena dari
beberapa wilayah lainnya semuanya dipimpin oleh kaum laki-laki dan bahkan sudah
ada yang berpredikat Haji. Kepemimpianan kaum wanita di tubuh PSII ini
merupakan tempat yang terhormat karena tempat dan kedudukan sebagai tantangan
sekaligus pemacu dirinya untuk terus berkarier.
Dilandasi
keuletannya, Opu Daeng Risadju dalam meneruskan perjuangan di
PSII, beliau melakukan pendekatan-pendekatan kepad keluarga dan
sahabat-sahabatnya diantaranya: Daeng Manompo, Daeng Malewa, Ahmad Cambang,
Beddu, Tjakkuru,dan lain-lain. Mereka adalah orang-orang sederhana dan tingkat
pendiddikan yang rendah tetapi mempunyai pendirian yang kokoh dan penuh
semangat dalam membantu perjuangan Opu Daeng Risadju untuk
menyebar luaskan organisasi PSII sebagaimana dalam waktu yang singkat sudah
berdiri beberapa distrik seperti: Bajo, Belopa,Suli, Malangke, Malili,
Patampanua, dan sebagainya.
Pasang Surutnya Perjuangan
Setelah meengikuti
Kongres PSII di Pare-Pare beliau bersama dengan suaminya H.Muhammad Daud
kembali ke Palopo untuk mengadakan propagonda dan berhasil mendirikan PSII di
Palopo. Dalam kondisi yang penuh semangat Opu Daeng Risadju di
bantu oleh sahabatnya dalam menyeebar luaskan ajaran islam melalui partai yang
di pimpinnya,di sisi lain pihak belanda berusaha menghalangi perjuangan
tersbut.
Hal ini terbukti
dengan semakin besarnya dukungan dari terhadap pergerakan yang dipimpin
oleh Opu Daeng Risadju tersebut kerena selain partai
berazaskan Islam juga karena mendapat dukungan besar dari kalangan masayarakat
dan pengaruh solidaritas anggota keluarga.
Dengan sambutan
Rakyat Luwu atas keadiran PSII hingga meluas sampai ke Malangke, daerah yang
terletak bagian Utara Palopo. Seiring perkembangan waktu pemuka masyarakat
Malangke mengundang Opu Daeng Risdaju untuk mendirikan ranting
PSII disana.
Berita berdirinya
PSII di malangke dsn kehadiran Opu Daeng Risadju di sana
terdengar oleh Contrleur Masamba melalui laporan kaki tangan dan mata-matanya .
dengan hati yang berang Contoleur Masamba tersebut datang ke Malangke dan
menangkap Opu Daeng Risadju bersama kurang lebih 70 Orang
Anggota PSII karena dianggap sebagai duri dalam tubuh pemerintahan Kolonial
Belanda di Tana Luwu.
Akan tetapi
ke esokan Harinya para Anggota PSII tersebut di bebaskan karena mereka tidak
bersalah, hanya Opu Daeng Risadju yang di tahan terus di
masukkan dalam penjara Masamba selama 13 bulan. Opu Daeng Risadju di
adili dengan ketuduha menghasut rakyat atau menyebarkan kebencian di kalangan
rakyat untuk membangkan terhadap Pemerintah Belanda.
Tindakan dari Kolonial
Belanda tersebut atas penahanan Opu Daeng Risadjudimaksudkan untuk
mengurangi aksi-aksi atau gerakan perlawanan Opu Daeng Risadjuterhadap
Belanda dan menghadang perluasan ajaran PSII.
Kenyataan mewujudkan
bahwa setelah Opu Daeng Risadju ditangkap, nama beliau semakin
terkenal ke seluruh Tana Luwu atau Bumi Sawerigading. Sehingga peristiwa yang
menimpa Opu Daeng Risadju tersebut bukanlah suatu alasan untuk
melangkah mundur dalam berjuang tetapi malah sebaliknya semakin membuat kondisi
politiknya semakin memanas, terutama bagi para pengikut partai yang dipimpinnya
Wanita Pertama Dipenjarakan Belanda Karena Masalah Politik
Karena tuduhan menghasut rakyat atau menyebarkan kebencian di kalangan
rakyat untuk membangkan terhadap Perintahan Kolonial Belanda menjadikan beliau
tahanan wanita pertama di Indonesia karena masalah politik. Tindakan dan
hukuman dari Pemeritah Kolonial Belanda tersebut di maksudkan untuk mengurangi
aktivitas Opu Daeng Risadju dan penyebaran luasan gerakan PSII
di Tana Luwu.
Namun
dengan penangkapan tersebut nama opu daeng risadju semakin terkenal keseluruh
wilayah Tana Luwu. Dengan rasa solidaritas yang tinggi bagi Orang Bugis,
peristiwa itu bukannya merendahkan suasana tetepi lebih membakar iklim Politik
terutama para Anggota Partai.
Berdasarkan
situasi tersebut, setelah Opu Daeng Risadju menjalani masa
tahanan datanglah berbagaai utusan dan undangan yang meminta beliau untuk
mendirikan ranting PSII di Tana Luwu seperti di Malili dan Patampanua. Sesaat
setelah Opu Daeng Risadjumenjalani masa hukumannya, beliau bersama
suami Haji Muhammad Daud berangkat ke Malili.
Akhirnya pada
Tanggal 1 Maret 1932 Opu Daeng Risadju resmi mendirikan
ranting PSII di Malili. Langkah tersebut sebagai bukti nyata bahwa penjara
tidak membuat beliau untuk mundur dari Dunia Politik tetapi semakin menambah
semangat yang membara untuk meneruskan cita-citanya, baik Opu Daeng
Risadju maupun para pengikutnya.
Tangan Dirantai
Setelah mendirikan ranting PSII di malili maka Opu Daeng Risadju bersama
suaminya H. Muhammad Daud dijemput oleh pasukan khusus dari Patampanua. Dengan
melalui Teluk Bone akhirnya beliau bersama suaminya tiba di Patampanua.
Saat Opu Daeng Risadju berada disana, karena di anggap orang
yang sangat berbahaya dan mempunyai pengaruh sangat kuat maka kepala distrik
Patampanua mendapat intruksi dari pemerintahan Kolonial Belanda untuk memantau
dan mengawasi segala aktivitas yang dilakukan Opu Daeng Risadju selama
dalam wilayah kekuasaannya tersebut.
Mengingat kedua
sangat berbahaya, maka mereka segera diantar ke Palopo dengan pengawalan yang
ketat oleh pemerintah Kolonial Belanda. Tepatnya pada Tanggal 17 Maret 1932
beliau meninggalkan Kolaka menuju ke Palopo dengan menumpang Kapal Laut. Dengan
dalil orangnya sangat berbahaya dan berbagai pertimbangan dalam perjalanan
laut, sehingga diputuskan untuk memborgol (dirantai) kedua tangannya.
Mendengar perlakuan
colonial belanda terhadap opu daeng risadju bersama suaminya yang dirantai,
maka kabar itu sangat menggemparkan Pemangku Adat Luwu, salah satunya opu
Balirante yang masih mempunyai hubungan darah Opu Daeng Risadju.Beliau
tergugah atas perlakuan dan penghinaan terhadap Opu Daeng Risadju,
karena seorang bangsawan tinggi yang di perlakukan demikian itu sangat tidak
wajar. Maka opu balirante mulakukan protes keras kepada Pemangku AdatLluwu dan
Pemerintahan Kolonial Belanda dengan suatu ancaman:
“Apabila Opu
Daeng Risadju bersama suaminya mendarat di Palopo dengan tangan dirantai, maka
saya akan meletakkan jabatan”.
Atas ancaman Opu
Balirante tersebut, sehingga tangan Opu Daeng Risadju bersama
tangan suaminya dilepaskaan rantainya ketika akan menginjak kaki di daratan
Palopo atau pinggiran Tanjung Ringgit Palopo. Sewaktu beliau beraa di Palopo,
beliau mendapat berbagai rintangan baik dari Pemerintahan Kerajaan Luwu beserta
Pemangku Adatnya, sperti ketika Opu Daeng Risadju dipanggil
ke Istana untuk menghadap Datu dan para Anggota Adat.
Jiwa Patriotisme dan Nasionalisme
Opu daeng
risadju adalah sosok wanita yang sangat memiliki jiwa Patriotisme dan
semangat nasionalisme yang sangat tinggi dan tak disangkali lagi dengan adanya
sanksi adat kepada beliau namun kobaran api perjuangan tak pernah surut.
Atas sikap opu daeng
risadju tersebut,maka Datu Luwu melalui Dewan Adat Luwu mengambil
tindakan dengan meninggalkan gelar Kebangsawanan Opu Daeng Risadjusebagai
ganti darah daging yang beliau ditawarkan,sehingga mulai saat itu Dewan Adat
Luwu tidak lagi memanggil dengan sebutan Opu Daeng Risadju.Namun
rakyat yang telah mengaguminya tetep memanggil seperti semula yakni tetep memanggil
seperti semula yakni tetap memanggil Opu Daeng Risadju.
Dengan demikian jelas terbukti
bahwa di dalam tubuh Opu Daeng Risadju telah tumbuh dan
tertanam jiwa Patriotisme dan semangat Nasionalisme dalam rangka memperjuangkan
kepentingan rakyat dan bangsanya yang tertindas,sekalipun beliau harus
meninggalkan kenikmatan kaum bansawan demi perjuangan.
Atas gelar kebangsawanan
itu, Opu Daeng Risadju tetap terus berjuang dan tak sedikit
pun rasa gundah dalam batinnya bahkan beliau merasa lega dan puas atas hukuman
tersebut, karena beliau berprinsif “Gelar di sisi Allah SWT jauh lebih
mulia dari pada di sisi manusia”.
Dari dasar itulah semakin
memperkuat keyakinan beliau akan kebenaran perjuangan yang di lakukannya untuk
membela kepentingan rakyat dan bangsa yang tertindas. Kemudian langsung berbaur
dengan kehidupan masyarakat yang di cintainya dan yang ingin diperjuangkannya.
Bercerai Suami Demi Kemerdekaan
Di daerah Sulawesi Selatan pada umumnya dan di Tana Luwu pada khususnya
sesorang yang mempunyai gelar kebangsawanan amat bermanfaat dan sangat
berpengaruh, sekalipun tidak mampu membaca dan menulis iaa dapat di angkat
menduduki suatu jabatan penting. Pemerintaah Kolonial Belanda tidak berhenti
menggungcang kehidupan Opu Daeng Risadju termasuk urusan
keluarga dan mengacaukan rumah tangganya. Tindakan biadab tersebut memaksa Haji
Muhammad Daud yang telah bersamnya kurang lebih 25 tahun membina rumah tangga
harus bercerai. Suaminya yang saat itu sebagai Imam Mesjid Jami Palopo selalu
di tekan dan diintimidasi oleh anggota aadaat dan penguasa Kolonial Belanda
agar menceriakan Opu Daeng Risadju apabila beliau tetap
berjuang dan masih tetap berpartai.
Dengan demikian Opu
Daeng Risadju adalah sosok yang rela mengorbankan kepentingan
pribadinya di atas kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. Opu Daeng
Risadju sebagai Seorang Pahlawan, perceraian itu bukanlah suatu
rintangan dalam meneruskan perjuangannya bahkan beliau merasa lebih bebas
mengemban amanah partainya.irama perjuangan sama di mana-mana dengan semakin
tumbuhnya kesadaran rakyat ingin membebaskan diri dari cengkraman kaum
imprealisme dan kolonialisme serta untuk bersatu untuk merintis kemerdekaan
bangsanya.
Dalam kondisi demikian
bagi orang Sulawesi Selatan yang akan berangkat Kongres PSII ke Jawa merupakan
suatu kejadian yang sangta luar biasa dan teristimewa. Selain karena jarak
antar Pulau yang cukup jauh, biaya transportasi cukup tinggi tetapi bukan
menjdi penghalang bagi Opu Daeng Risadju untuk mengikutinya,
terbukti beliau rela menjual harta bendanya yang masih tersisa untuk membiayai
perjalanannya itu dan juga mendapat baanyak simpatik berupa bantuan
dari para sahabatnya.sehinggaa waktu itu praktis Opu Daeng Risadju tidak
memiliki harta lagi untuk sumber kehidupan bersama anak-anaknya kelak.
Mengikuti Kongres PSII
Sebagi utusan
Cabaang PSII Palopo - Sulawesi Selatan pada kongres PSII di Batavia
(Jakarta) merupakan kehormatan tersendiri bagi Opu Daeng Risadju.
Disanlah beliau bertemu dengan beberapa orang dari pergerakan kebangsaan,
orang-orang terkenal serta para Cendikiawan. Setelah mengikuti Kongres PSII
tersebut, beliau bersama dengan beberapa utusan lainnya meninjau beberapa Kota
penting di jawa dengan tujuan untuk menambah pengalaman dan pengetahuan.
Kegiatan Opu
Daeng Risadju dalam meneruskan perjuangan kembali lagi mendapat reaksi
keras dari beberapa Anggota Dewan Adat terutama mereka yang telah mendapat
hasutan dan pro Pemerintah Kolonial Belanda. Kondisi tersebut membawa
lagi Opu Daeng Risadju ke meja pengadilan, tapi kali ini
adalah pengdilan adat karena tuduhan melakukan pelanggaraan larangan adat.
Namun usulan tersebut
dibantah keras oleh Opu Balirante, salah seorang anggota adat.beliau sangat
keberatan bila Opu Daeng Risadju mendapat hukumaan seperti itu
Karen perbuatan seperti itu belum pantas memperoleh hukuman diSelong. Akhirnya
dengan kata sepakat hukuman Opu Daeng Risadju dirubah menjadi
di hukum penjara selama 14 bulan yang terjadi pada tahun 1934.
Pergantian Datu Luwu
Setelah Opu Daeng Risadju selesai menjalani masa
hukumannya dalam Bui penjara, Datu Luwu Andi Kambo Daeng Risompa meninggal
dunia pada tahun 1935. Kondisi dalam Istana kerajaan Luwu mengalami perrpecahan
di kalangan Putera Keturunan Raja.
Dengan demikian
aktivitas perjuangan Opu Daeng Risadju telah mendapat dukungan
dari kalangan Istana Kerajaan Luwu, khususnya Andi Djemma yang telah
menyisihkan uang pribadinya dan khas Negara untuk membantu membiayai aktivitas
dari pergerakan kebangsaan yang akhirnya membuat beliau harus dipecat dari
jabatannya Sulawetang Wara. Sementara Opu Daeng Risadju telah berhasil menyentuh hati seluruh lapisan
masyaraakaat Tana Luwu, termasuk kalangan bangsawan dan orang terpelajar.
Melihat kondisi
tersebut, Opu Daeng Risadju tidak tinggal diam, beliau
memanfaatkan situasi tersebut dan berusaha mempergunakan dengan sebaaik-
baiknya dan memberi penjelasan dan mulut ke mulut kepada masyarakat Luwu bahkan
pendukung Andi Djemma mengatakan apabila bukan Andi Djemma yang menjabat
sebagai Datu Luwu, maka pada saat pemilihan Datu Luwu mereka akan membawa
tombak, parang dan keris sebagai persiapan menghadapi segala kemungkinan yang
akan terjadi nanti dalam Istana Kerajaan Luwu. Akhirnya dengan suasana yang
tegang hampir menimbulkan perang saudara, Andi Djemma dinobatkan sebagai Datu
Luwu.
Meyongsong Fajar Kemerdekaan
Kekuasaan Militer
Jepang di Sulawesi Selatan diawali dengan pendaratan di Makassar
pada Tanggal 9 Februari 1964, kemudian menyusul pula daerah-daerah
di sekitarnya termasuk di Tana Luwu.
Dengan pendudkan Militer
Jepang menjadikan situasi perpolitikan dan kondisi organisasi keagamaaan di
Sulawesi Selatan menjadi suram. Hal ini membuat Opu Daeng Risadju tidak
mampu membuat banyak dan terpaksa harus mengikuti kebijaksaan Pemerintah
Militer Jepang tersebut yang telah membuat salah seorang sahabatnyaAchmad
Cambang tertangkap dan kemudian ditahan lalu disiksa di penjara
masamba hingga menghembuskan nafas terakhirnya.
Dengan demikiaan
perjuangan Opu Daeng Risadju tetap berjalan dengan penuh
kesederhanaan, ketabahan, kesabaran dan pengetahuan menjadi suri teladan
dimana-mana. Ketika beliau berada di Belopa, tersebar berita bahwa Militer
Jepang menyerah.
Tetapi berita
kemerdekaaan tersebut dimanfaatkan lagi oleh NICA dengan menyebar luaskan
pasukan di sekitar Kota Palopo. Mereka mengambil Markas di Bajo, bagian Selatan
Palopo tempat kaum pergerakan kebangsaan melakukan aktivitasnya. Pemuda Luwu
yang bergabung dalam Pemuda Republik Indonesia Luwu melakukan serangan umum
kepada NICA tepatnya tanggal 23 Januari 1946 sehingga kemudian atas dorongan
Penasehat Pemuda Republik Indonesia di Belopa yaitu Opu Daeng Risadju terjadi
pula serangan ke daerah Bajo yang merupakan pusat kegiatan NICA di wilayah
Selatan Kota Palopo.
Pada waktu Opu
Daeng Risadju tiba di Bajo, kepada distrik Bajo bentukan NICA Ludo
Kalapita menyeret Opu Daeng Risadju ke
lapangan sepak bola Bajo, kemudian beliau diperntahkan berelari
mengelilingi lapangan dengan iringan letusan senapan. Lalu berdiri dengan tegap
menghadapkan diri pada matahari. Tak lama kemudian mendekatlah Ludo Kalapita
lalu meletakkan laras senapannya diatas pundak opudaeng risadju jatuh
tersungkur dan mencium tanah di antara kaki Ludo Kalapita dan diapun masih
sempat menyepaknya lalu pergi.
Opu Daeng
Risadju yang semakin termakan usia setelah pengakuan kedaulatan 1949, beliau
pindah ke Pare-Pare bersama Putranya H. abdul kadir Daud. Setelah Puteranya
tersebut meninggal dunia, maka Opu Daeng Risadju kembali ke
Palopo, kemudian beliau jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya pada
tanggal 10 Februari 1964.
Melihat perjuangan Opu
Daeng Risadju tersebut yang telah memgang peranan penting dan secaara
aktif dalam perjuangan kebangkitan Nasional dan Masa Revolusi fisik, dalam
mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Atas jasa-jasa beliau tersebut maka
Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan bintang
Maha Putra Adhi Pradana dengan keputusan Presiden Republik Indonesia
No.085/Tk/Tahun 2006 Tanggal 3 November 2006 di Jakarta .
BAB 2
PERJUANGAN ANDI DJEMMA
Semangat 23 Januari 1946
Asal Usul Andi Djemma
Tepatnya pada tanggal 2 Ramadhan 1318 Hijriah atau tanggal 15 januari 1901
rakyat Luwu terutama dari kalangan Keluarga Istana Kedatuan Luwu di Palopo
sangat bergembira karena telah lahir seorang bayi laki-laki yang diberi nama
Patware atau yang lebih popular dengan sebutaan Andi Djemma. Dia
adalah anak tunggal dari pasangan Datu Luwu Sitti Huzaimaah Andi kambo Opu
Daeng Ri Sompa dengan Andi Engka Opu Cenning.
Beberapa tahun
setelah Andi Djemma dlahirkan, ayahnya meninggak dunia
sehingga ibunya dalam keadaan menjadi mengemudikan Bahtera Kerajaan Luwu ketika
belanda menyerang kerajaan ini pada tahun 1906. Saat itu pula Andi
Djemma diasuh dan di didik oleh ibunya dengan penuh kesederhanaan dan
senantiasa berlandaskan atas nilai-nilai tatanan Adat Istiadat
Andi Djemma menempuh
Pendidikan dengan sangat sederhana. Dia hanya tamat Inlandsche School yang
setara dengan sekolah dasar 5 tahun. Namun Andi Djemma pun
tidak termasuk murid yang Brilian tetapi menjadi murid yang biasa-biasa saja.
Karir Politik Andi
Djemma dalam pemerintahan dimulai ketika memegang jabatan, Sulawetang
Ngapa pada tahun 1919. Kemudian pada tahun 1920 Andi Djemma menikah
lagi dengan Seorang Gadis berkulit Hitam Manis bernama Intang Daeng Maweru yang
3 orang anak.
Pada tahun 1923 Andi
Djemma di pindahkan ke Kota Palopo dan menjabat sebagai Sulawetang
Ware, sebuah jabatan yang biasanya dipegang oleh seorang Putera Mahkota. Dari
hari kehari Nampak pada masarakat serta membela rakyat kecil.
Andi Djemma dan Perang Pasifik
Andi
Djemma dalam perjuangan tak sedikitpun rasa gentar dalam hatinya walau
resiko sebesar apapun tak kan pernah mundur. Sikap yang ditunjukkan tersebut
telah lama dicurigai kesetiaannya kepada Pemerintah Kolonial Belanda. Oleh
Karena itu dengan memanfaatkan kesalahan Andi Djemma yang telaah menggunakan
uang khas pemerintahan Belanda untuk perjuangan dijadikan alasan Controleur
Groeneved untuk mendesak Datu Andi Kambo agar memberhentikan Andi
Djemma dari jabatan sebagai Sulawetang Ware yang telah dipegang selama
3 tahun.
Pada
tahun 1935, tibalah saatnya Andi Djemma untuk memenuhi kiprah
perjungannya di gelanggang politik dan mengamalkan segala cita-cita kerakyatan
yang telah tumbuh subur karena terpupuk selama pengembaraannya bertahun-taahun
di tengah rakyat jelata
Kehadiran Andi
Djemma ke gelanggang politik bukanlah suatu proses yang lancar tetapi
dilalui dengan perjalanan yang panjang dan penh ketegangan.setelah melalui
proses pemilihan yang Demokratis Andi Djemma yang terpilih
sebagai Datu Luwu menggantikan Andi Kambo.
Masa
jabatan Andi Djemma sebagai Datu Luwu ditandai dengan makin
pesatnya kegiatan pergerakan kebangsaan dan keaagamaan di darah luwu. Pada
tanggal 8 Desember 1941 meletuslah perang pasifik yang membuat Tentara Jepang
menyerah ke wilayah Selatan dan berhasil menduduki Kota Kendari pada bulan
Februari 1942. Atas kejadian itu pihak Belanda menjadi kalap dan secara memBABi
buta menangkap kaum pergerakan di manapun berada.
Kemudian
menjelang berakhirnya peperangan Asia Timur Raya, Pemaangku Adat Keraajaan Luwu
telah mengirim utusan ke Watampone untuk meminang Andi Tenripadang yang baru
berusia 16 tahun yang juga meruapakan putri dari Andi Mappanyukki Raja Bone
untuk dipersunting Andi Djemma yang kala itu berusia 45 tahun.
Begitu
perhelatan Andi Djemma selesaai dan para tamu pulang ke tempat
masing-masing, maka Pendopo tempat pesta berlangsung diruntuhkan.
Sebuah pesawat yang terbang tinggi telah menyebarkan pamflet Sekutu yang berisi
pengumuman bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat.
Pada tanggal
18 Agustus 1945 salah seorang Intel Jepang bernama Sakata telah
membocorkan rahasia kepada Pemuda Pemudi Palopo bahwa di Jakarta telah di
proklamasikan kemerdekaan Indonesia sehari sebelumnya. Andi
Djemma pun kemudian menyuruh putranaya Andi Makkulau dan Sekretarisnya
M. Sanusi Daeng Mattata untuk berangkat ke Makassar untuk mencari kebenaran.
Kedua utusan itu berhasil menjumpai Dr. Ratulangi yang ternyata membenarkan
berita proklamasi tersebut.
Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan
Para
Pemuda dan Pemudi Tana Luwu mengambil prakarsa untuk membentuk organisasi mulai
dari yang kecil dan rahasia yang diberi nama Soekarno Muda.
Kemudian untuk organisasi yang agak terbuka bernama PNI ( Pemuda
Nasional Indonesia ) yang kemudian yang lebih luas dan memiliki sifat
patriotisme yang lebih jelas yaitu PRI ( Pemuda Republik Indonesia ).
Pada
bulan September 1945 Andi djemma mengusulkan kepada mertuanya
Andi Mappanyukki (Raja Bone) untuk mengambil inisiatif melangsungkan
Konferensi Raja-Raja Se-Sulawesi Selatan di Watampone. Hasil dari konferensi
tersebut adalah terbentuknya keseppakatan sikap bahwa Datu Luwu,
Raja Bone dan Datu Suppa menegaskan berdiri dibelakang Republik
Indonesia.. sementara itu diantara Raja-Raja lainnya yang hadir
ada bersikap menolak dan ada yang bersikap maju mundur atau ragu-ragu.
Sesudah Andi
Djemma menjelaskan pendiriannya kepada Pemangku Adat ada sebagian yang
tidak mendukung lalu mengundurkan diri. Untuk mengatasi kekosongan jabatan
pemangku adat tersebut maka Andi Djemma segera menggantikan
mereka dengan tokoh dari bangsawan muda yang progresif. Langkah ini bertujuan
untuk menyakinkan Pemuda Luwu ( PRI ) terhadap pendirian yang teguh di belakang
Republik Indonesia itu Andi Djemma memerintahkan kepada para
pendukungnya untuk mengumpulkan rakyat di alun-alun dan di sana akan di
umumkan “ Daerah Luwu adalah Daerah yang tidak terpisah dari Republik
Indonesia, bahwwa pegawai-pegawai Pemerintah di Luwu adalah pegawai Republik
Indonesia dan Pemeritah Luwu menolak kerjasama denagan NICA”.
Sesudah pengumuman itu maka di selengggarakanlah berbagai rapat
terbuka di setiap pelosok untuk memberikan dukungan penuh kepada Andi
Djemma karena telah menjadi personifikasi di Republik Indonesia.
Tetapi
setelah itu dikemudian hari, terjadi pergantian Komando Sekutu di Makassar dari
tangan Brigadier General Iwan Dougherty kepada Brigadier General Chilton maka
kebijaksanaan tentara Sekutu yang tadinya Pro-Republik Indonesia menjadi
pro-NICA. Mayor Herman atas nama Brigadir General Chilton mengeluarkan
pengumuman yang isinya antara lain menytakan bahwa rakyat Sulawesi Selatan
diwajibkan menaati perintah-perintah NICA.
Sebagai
kelanjutan dari kebijaksanaan tentera Sekutu itu, Australia mulai mendesakAndi
Djemma untuk menurunkan bendera Merah Putih yang telah berkibar sejak
Proklamasi dan akan digantikan dengan Bendera Belanda. Pada waktu Bendera Merah
Putih sedang berkibar di depan Istana Datu Luwu tiba –tiba datang tiga tentara
Australia / Sekutu bersenjata Tommygun membawa bendera Belanda untuk memaksa
dan mengancam langsung kepada Andi Djemma kepala Pemerintah RI
Luwu agar bendera Merah Putih diturunkan dan diganti dengan bendera Belanda.
Dengan kondisi tersebut maka dijawab Andi Djemma yang
disampaikan oleh Dr. Rambitan dalam Bahasa Inggris yang berbunyi : “ Kalau
bendera Belanda itu aya kibarkan pasti saya dibunuh oleh rakyatku. Jika bendera
Merah Putihyang sedang berkibar di luar itu saya turunkan, dari pada saya di
bunuh oleh rakyatku sendiri lebih baik tuan-tuan membunuh saya”.
Dan
kaena Pemerintah Luwu tidak mau menurunkan bendera Merah Putih, maka mulailah
NICA memancing insiden dengan melakukan patroli keliling kota. Pemuda-pemuda
Luwu yang bersenjata senantiasa berusaha mengindari bentrokan dengan menyingkir
keluar kota ke desa Bua, tetapi patroli NICA tetap mengikuti mereka. LaluAndi
Djemma pun mengirim surat bernada protes kepada Sekutu dan sekaligus
memperingatkan bahwa Pemerintah Luwu tidak akan bertanggung jawab atas keamanan
patroli- patroli NICA keluar meninggalkan tangsinya.
Pada
tanggal 17 January 1946, dalam suatu rapat rahasia disalah satu tempat
dikampung Surutanga dalam Kota Palopo dengan dikawal oleh Pasukan Pemuda
Republik Indonesia ( PRI ), maka di bentuklah Dewan Pertananan Rakyat dan
selaku Komando Pertempuran dipimpin oleh M. Jusuf Arief dengan
wakil –wakilnya yaitu Andi Tenriadjeng dan M. Landau.
Tanggal 21 January 1946 terjadi insiden di Bua sekitar 11 Km bagian Selatan
Kota Palopo yang terkenal dengan “ Bua Affair”. Patroli
–Patroli mengotori Masjid Bua dengan sisa makanan kaleng, menginjak dan
merobek-ronbek Al-qur’an dan memukul pegawai Mesjid dengan gagang senapan. Hal
ini membuat Wakil Komando Pertempuran,Andi Tenriadjeng naik pitam
dan hampir saja pertempuran besar-besaran terjadi hari itu. Kejadian ini
menimbulkan rasa tidak aman bagi rakyat dan mereka mulai menyerang Kota Palopo,
maka terjadilah perkelahian antara rakyat dengan Belanda hingga meluas ke
seluruh penjuru Tana Luwu. Terbentuklah organisasi pertahanan yang
mempersenjatai diri sendiri dengan bamboo runcing, tombak dan alat-alat
sederhana lainnya. Pada hari itu juga menjelang tengah malam Ultimatum 2x24 jam
dilancarkan kepada Komando Kontingen Sekutu : “ialah agar tentara KNIL
bersama senjata-senjatanya ditarik semua masuk dalam tangsinya.
Kalau tidak keamanan dan ketertiban tidak bisa dijamin, karena rakyat tidak
bisa sabar atas kekejaman –kekejaman KNIL “. Ultimatum tersebut
ditanda-tangani oleh M. Jusuf Arief dan selakunya Komandan
Komandan pertempuran.
Tanggal
23 January 1946 pagi hari bendera Merah Putih berkibar dan mengganti bendera
Sekutu. Selama kurang lebih 30 jam pemuda-pemuda pejuang dapat menguasai Kota
Palopo, namun setelah itu datanglah bantuan pasuakan Sekutu/ NICA dari laut
dengan mendaratkan tentaranya. Pemuda-pemuda bersenjata tetap berusaha bertahan
hingga titik darah terakhir di Kota Palopo yang sudah menjadi lautan api itu
sekedar untuk memberikan perlindungan bagi rakyat agar dapat menyingkir keluar
kota dengan keadaan selamat.
Pembuangan Bukan Akhir Perjuangan
Dalam
pertempuran di dekat Kolaka, seorang anggota Pasukan Keamanan Rakyat ( PKR )
ditawan oleh Pasukan NICA dengan diikat kedua tangannya, ia dipaksa untuk
menunjukkanjalan bagi Kompi KNIL menuju tempat Andi Djemma. Berhari-hari mereka
berjalan merambah hutan untuk tiba ditempat tujuan yaitu bagian belakang
Benteng Batu Putih. Dengan bergantungannya rotan,pasukan –pasuakan ini menuruni
tebing-tebing curam untuk dapat masuk kedalam benteng alam tersebut. Andi
Djemma dan pejabat-pejabat pemerintah Luwu tak dapat berkutik lagi
datang dihadapannya seraya menodongkan senjata-senjata kedada Andi Djemma dan
berkata “ kalau pasukan yang mengawal bagian depan pintu
ini memberikan perlawanan, maka semua yang ada disini laki-laki atau perempuan,
anak-anak atau orang tua semua akan disapu bersih”. Andi Djemma pun
kemudian menulis surat kepada Andi Tenriadjeng, komandan pasukan,
menjelaskan situasi yang tidak aman lagi kawasan benteng Batu Putih. Untuk
menghindari agar Andi Djemma dan pengikutnya tidak
dibinasakan. Maka PKR tidak memberikan perlawanan tetapi meninggalkan tempat
dan lari lebih jauh dalam hutan belentara.
Andi
Djemma selanjutnya ditawan dan dibawa kepalopo untuk ditahan di KIS Kampement
Makassar . setelah itu beliau diadili secara adat di Watampone,beliapun difonis
hukuman selama 25 tahun. Andi djemma kemudian di buang ke selayar lalu ke
ternate. Sedangkan anggota anggota pemangku adat lainnya mendapat hukuman yang
sama tetapi dibuang ke tempat-tampat yang berbeda,seperti andi makkalau ke
morotai,andi kasim dan andi pangerang ke kupang,andi kaso ke tomohon,dan andi
mappanyompa ke
banda.
Hukuman pengasingan yang dikenakan kepada
Andi djemma dan pengikutnya tidak berlangsung lama akibat pengaruh
dari pergolakan politik yang terjadi dalam kancah perjuangan kemerdekaan
Indonesia.Pada saat konferensi meja bundar di hague(Den Haag),pemerintah
belanda terpaksa menerima kesepakatan untuk menyerahkan kedaulatan kepada
Negara Indonesia serikat selambat lambatnya akhir desember 1949.
Berdasarkan
hasil kesepakatan itu pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) berusaha
membebaskan semua pejuang kemerdekaan yang ditawan, yang diasingkan(tahanan
politik) pemerintah belanda termasukandi djemma dan
pengikutnya.
Kembali dari Pengasingan
Setelah
pengakuan kedaulatan, dipelabuhan Makassar diadakan penyambutan yang sangat
meriah terhadap yang dikembalikan dari pengasingan pada tanggal 1 maret
1950.Andi djemma terus kepalopo dan mendapat sambutan yang sangat meriah serta
langsung menduduki jabatannya di Luwu yaitu sebagai Kepala Daerah Swapraja
Luwu.
Tak
lama kemudian, timbulnya situasi yang sangat tidak menyenangkan bagi Andi
Djemma yaitu terjadinya konflik antara kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS)
dengan APRIS (TNI gabung KNIL). Konflik ini berlarut-larut dan menelan banyak korban
jiwa dan harta benda. Andi Djemma dihadapkan pada suatu kondisi yang dilematis,
pada satu sisi sebagai pemerintah Andi Djemma harus membantu APRIS untuk
menumpas gerilya, tetapi pada sisi yang lain sebagai kawan seperjuangan dari
gerilya-gerilya itu. Andi Djemma berusaha sekuat tenaga untuk menyakinkan APRIS
dan pemerintah pusat tentang perlunya dilakukan penyelesaian secara damai.
Pada
permulaan 1951 akhirnya para anggota pasukan gerilya itu disetujui untuk
diterima kedalam organik TNI batalyon . mereka ditempatkan pada rayon-rayon
untuk kelak dilantik menjadi prajurit-prajurit Negara.
Pada
tanggal 22 February 1965 Andi Djemma menutup mata selama-lamanya yang kemudian
dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Panaiakang Makassar dengan upacara meliter,
adat dan agama.
Andi Djemma di Mata Rakyat dan Rja-Raja di Sulawesi Selatan
Secara
teoritik dapat dikatakan bahwa penulisan sejarah dan budaya masa kini yang
dimotori oleh cara pandang para orientalis telah berubah. Tata cara yang benar
adalah dengan mencoba melihat suatu masalah kebudayaan dan kesejarahan sudut
pandang dari pendukung kebudayaan itu sendiri. Hal itu merupakan suatu
kebangkitan cara pandang yang benar disebut sebagai pendekatan etnografi, yaitu
pendekatan yang mencoba untuk menangkap nuansa-nuansa local tentang rasa budaya
(feeling of culture) orang setempat agar nuansa budaya dan makna yang terungkap
dari lokasi tersebut terepresentasi di dalam tulisan-tulisan sejarah dan budaya
kontemporer. Kebanyakan dari hal tersebut tergambar dari simbol-simbol perilaku
sebagai suatu ekspresi ide-ide yang perlu diangkat untuk memahami nuansa local
tersebut. Hal demikian telah banyak diangkat dan diungkapkan oleh Evans
Pritchard (1951), Edward (1979), Layton (1997), Clifford dan Marcus (1996) dan
lain-lain.
Di
samping itu banyak peneliti barat hanya memandang berdasrakan kacamata-kacamata
mereka sendiri dimana sudut pandang itu hanya merupakan suatu teori
Armchair atau teori “belakang meja” yang tidak memberi kesempatan
secara dinamis dari orang-orang yang diteliti itu sendiri. Tentang budaya dan
sejarah harus terekspresi dan terpresentasi dari nuansa dan budaya akan
menggiring seseorang akan bertindak dan berbuat yang tercermin dari perjalanan
sejarahnya sendiri. Salah satu contoh penerapan konsep indic states
oleh Sherly Errington dikerajaan Luwu dari apa yang sebenarnya. Hal ini telah
dibicarakan oleh Ian Godwell dan Abert Schranmers. Cara pandang ini telah
banyak diungkapakan oleh para peneliti sejarah yang termasuk didalamnya
Heathther Sutherland, Clifford Geertz, Jose E.Lemon, Kenneth George, Artkinson
dan lain-lain. Pendekatan mereka ini disebut Pendekatan Revitalisme Budaya yang
mencoba untuk memandang budaya didalam perjalanan sejarah, melihat dair sudut
pandang dan aprresiasi masyarakat setempat didalam berbudaya dan bertindak.
Dari
peristiwa ini tampak Andi Djemma dengan istananya merupakan suatu keutuhan
semangat dengan rakyatnya. Terbukti dikala Andi Djemma mengunjungi rakyatnya
keseluruh Tana Luwu untuk mengobarkan semangat perjuangan dan menyatakan perang
terhadap tentara sekutu serta menolak kesewenang-wenangan terhadap rakyat Luwu.
Salah satu bukti yang nyata ketika tanggal 26 October 1945 saat berhadapan
antara Andi Djemma yang mewakili rakyat Luwu dengan Asisten kepada Andi Djemma
untuk menurunkan bendera Merah Putih didepan Istana kerajaan Luwu dan
menggatikannya dengan bendera belanda.
Dari
peristiwa ini tersebut dapat ditelusuri secara
mendalam bahwa sifat-sifat dari Andi Djemma menampakkan bahwa beliau merupakan
seorang Pemimpin yang terlahir dan dilahirkan. Munculnya tokoh Andi Djemma
dalam kriteria tersebut di atas didalam perilaku kehidupan yang dimulai dari
pelantikannya pada tahun 1935 untuk menggantikan ibundanya Datu Luwu Siti
Huzaimah Andi kambo Opu Daeng Risompa dan perilaku-perilaku
selanjunya yang terdiri atas:
a. Integritas
b.Antusiasme
c. Kehangatan
d. Ketenangan
e. Tegas dan Adil
Bukti kesedian
berkorban Andi Djemma dengan fakta sebagai berikut:
1.Andi Djemma bersedia meninggalkan Istananya, dengan harta bendanya, dan
kesenangan hidup dan memilih mengungsi ke daerah Luwu di Sulawesi Tenggara,
pada tanggal 23 January 1946.
2.Andi Djemma memilih untuk memimpin perlawanan terhadap KNIL dan hidup
sengsara dari pada menyerah kepada penjajah. Empat kali pusat pemerintah dan
pusat perlawanan rakyat Luwu berpindah pindah, mulai dari Cappasolok, Pongko,
Pombakka dan benteng Alam Batuputih (kolaka).
3.Beliau bersedia menerima perubahan kedatuan Luwu yang mulia pada bulan
April 1950 yang dipimpinnya menjadi Swapraja Luwu, bahkan beliau menerima
perubahan status itu menjadi daerah Swanntra, yang berarti penghapusan Swapraja
Luwu dan dijadikan Daerah Tingkat II pada tahun 1960, walaupun sebenarnya
Presiden Ir. Soekarno pernah menjanjikan akan memberikan daerah istimewa kepada
kerajaan luwu sebagai halnya dengan ksultanan Yogyakarta.
4.Hampir seluru harta Andi Djemma habis dibelanjakan untuk perjuangan
mempertahankan kemerdekaan, sehingga beliau menjadi miskin.
Andi
Djemma wafat sebagai pejuang dalam keadaan miskin tanpa meninggalkan warisan
yang bearti bagi istri dan 5 putera-puteranya. Setelah wafat, sesepuh adat di
Luwu meetapkan namanya yang lengkap sebagai berikut : Andi Djemma la pattiware
opu to mappemene wara-warae petta matinroe ri kemerdekaannya yang
berarti meninggak dalam alam kemerdekaan. Atas segala pengorbananya dan jasa
tokoh pejuang kemerdekaan yang sekaligus Datu Luwu yang kharismatik terhadap
bangsa dan seluruh rakyat Indonesia melalui pemerintah RI menganugerahkan
Pahlwan Nasional kepadA Andi Djemma berdasrkan keputusan Presiden RI
No.073/TK/tahun 2002 tanggal 6 November 2002
BAB III
Beliau
dilahirkan pada tanggal bulan January 1918 di kota palopo. Ayahnya bernama
Muhammad Arief yang berprofesi sebagai pegawai pemilik sekolah dan ibunya
bernama daeng nasora. M. Jusuf Arief sebagai anak pertama dari empat
bersaudara. Pendidikan dari inlandsche school kemudian
dilanjutkan ke sekolah guru lalu mengajar M. Jusuf Arief mengikuti
kursus-kursus wartawan baik kursus didalam bahasa Indonesia maupun kursus bahasa asing seperti bahasa belanda dan bahasa inggris.
Berdasrkan
pengetahuannya melalui kursus wartawan tersebut, maka pada tahun 1943, M.Jusuf
Arief berangkat ke Makassar dan bekerja sebagai wartawan di Harian Celebes.
Harian ini di pimpin oleh Manai Sophian sebuah harian di bawah pengawasan
jepang.
Sebelum
proklamasi kemerdekaan RI dikumandangkan oleh soekarno-hatta atas nama bangsa
Indonesia, maka beliau kembali ke kota palopo. Secara rahasia M. jusuf arief
telah membentuk sebuah organisasi yang bernama SOEKARNO MUDA. organisasi ini
dipeloporinya sendiri dalam wilayah ibu negeri Afdeeling Luwu. Tujuan
organisasi ini adalah membuat gerakan untuk merebut kekuasaan dan senjata dari
tangan jepang serta untuk membela Negara Indonesia.
Pada pertengahan
bulan oktober 1945, dengan prakarsa M. jusuf arief, beliau memimpin konperensi
pemuda republic Indonesia (PRI) di sengkan. Konperensi tersebut dihadiri oleh
utusan –utusan pemuda republic Indonesia dari seluruh jazirah Sulawesi. Pada
pertemuan tersebut Sulawesi utara di wakili oleh R.M kusno Dhanupojo dan G.E.
dauhan.sulawesi tengah diwakili oleh raja muda wongko lemba talasa dan ince
Moh.dachlan dari poso, sedangkan Sulawesi selatan tenggara diwakili oleh M.
jusuf Arief dari pemuda Indonesia (PRI) Luwu.
Tujuan
konferensi Pemuda Republik Indonesia tersebut adalah mendesak Raja-Raja di
Sulawesi agar tetap pada pendiriannya semula sesuai dengan hasil-hasil
konferensi Raja-Raja di Watampone dan untuk menggalang kesatuan gerakan aksi
melawan NICA dan KNIL yang merajalela.
Puncak
ketegangan terjadi pada tanggal 20 January 1946 dimana pasukan KNIL pada malam
hari mengadakan patroli di Bua yang merupakan tempat strategis dari para pemuda
pejuang berlatih. Pertama-tama yang didatangi KNIL ialah rumah ruamah Opu Gawe
isteri Andi Madarang bekas Opu Patunru dalam kerajaan Luwu, rumah tersebut
adalah Sao Raja yang artinya Rumah Raja.
Sao
Raja ini digeledah dan diobrak-abrik karena dianggap meyimpan senjata. Tindakan
tentara KNIL ini dianggap suatu penghinaan terhadap raja dan menyinggung
perasaan rakyat Luwu pada umumnya.
Sebelumnya
KNIL masuk masjid Bua dan mengadakan tindakan yang sama yaitu merobek-robek
Al-Qur’an dan memukuli penjaga masjid dan orang-orang yang berada di tempat
itu. Dengan perlakuan dan tindakan yang sewenang-wenang tersebut membuat hati
rakyat luwu terluka dan tidak tinggal diam, maka terjadilah pertempuran pada
bulan January 1946.
Ketika
terjadi insiden di Bua yang dikenal “Bua Affair” pada tanggal 21 January 1946,
yaitu tentara Sekutu Australia maka M. jusuf arief selaku komandan pertempuran
bersama dengan andi djemma datu luwu dan kiyai haji Muhammad ramly selaku kadhi
luwu memberikan ultimatum 2X 24 jam kepada tentara KNIL dia agar segera tarik
kedalam tangsinya beserta dengan senjata-senjatanya, kalau tidak dan tetap
bertahan maka kondisi keamanan dan ketertiban tidak dapat dijamin. Setelah
ultimatum tersebut tak digubris sedikitpun oleh komandan sekutu maka pada
tanggal 23 januari 1946 tepat pukul 03.39 subuh terjadialah serangan total dan
fontal rakyat Indonesia di kota palopo bumi sawerigading yang menyeBABkan
begitu banyak korban diantara kedua belah pihak. Sekitar pukul 06.30
pagi seluruh kota dikuasai oleh pemuda dibawah pimpinan M.jusuf arief. Pada
situasi yang begitu mencekam dan menegangkan maka tentara Australia dan KNIL
(NICA) hanya tinggal bertahan dalam kubunya yang telah dipersiapkan sebelumnya,
sebagian dari tentara KNIL ini membuka bajunya dan memakai celana kolor dengan
tetap memegang senjata meninggalkan tangsinya dan membuat kubu pertahanan
disekitar pinggiran sawah tepatnya dikaki gunung Patte’ne yang meruapakan jalan
menuju ke tana toraja.
Dengan jiwa dan
semagat yang menyala-nyala pasukan soekarno muda menunjuk Andi Tenriadjeng
untuk segera menuju ke istana kerajaan luwu di palopo untuk melapor kepada andi
achmad bahwa pasukan dan rakyat bersenjata di Bua siap menyerang.
Kemudian datu menanyakan
tentang kedatangan pasukan dari Lasusua (Sulawesi Tenggara) dan menegaskan
bahwa pasukan tersebut telah tiba di palopo dan serangan dapat dilakukan. Atas
dasar itulah Andi tenriadjeng memerintahkan kepada pasukannya untuk siap siaga
dan mengatur posisi strtegis perjuangan. Bersamaan dengan itu, M.jusuf arief
menyiapkan pasukan komandonya. Rencana tersebut ternyata tercium oleh sekutu
sehingga patroli kota palopo mencekam lagi.
Selain Andi Tenriadjeng
dan M. Jusuf Arief serta para pegawalnya yang telah siap menyerang, beberapa
pemuda dan pejuang menjelang serangan 23 januari 1946 seperti M. jusuf setia,
m. badawi hadiwijaya, raden sojono, Abdullah daeng mallimpo, abu perto, achmad
ali dan baso rachim juga melakukan hal yang sama mereka telah bertekad sehidup
semati demi mempertahankan kemerdekaan republic Indonesia.
Jabatan terakhir M.Jusuf
Arief dalam perjuangan adalah kepala staf divisa pembela keamanan rakyat (PKR)
dan beliau dilantik pada tanggal 1 maret 1946 di latou/patampanua Sulawesi
Tenggara oleh andi djemma atas nama kepala pemerintah Republik Indonesia
Yogyakarta. Namun pada bulan February 1948, Temporaire KNIL di Makassar telah
menjatuhkan hukuman tembak mati pada beliau bersama sahabat sekaligus teman
seperjuangannya yaitu Andi Ahmad, Andi Tenriadjeng, M. Landau dan M. Djufri
Tambora yang kemudian hukumannya dirubah menjadi hukuman seumur hidup.
Awal
tahun 1950 M. Jusuf Arief dibebaskan dari penjara Cipinang dan terus ke
Yogyakarta atas panggilan Kahar Mudzakkar dan Manai Sophian. Pada tanggal 15
February 1950 oleh Qahar Mudzakkar menjelaskan kepada M. Jusuf Arief yang baru
saja bebas dari penjara, Qahar Mudzakkar selaku komandan Group Seberang (KGS)
Tentara Nasional Indonesia tepatnya dijalan gondomanan Yogyakarta bahwa divisi
pembela keamanan rakyat (PKR) telah dimasukkan dalam slogarde TRIPS dimana ia
jadi komandannya sendiri olh panglima besar Sudirman. Tak lama kemudian M.
Jusuf Arief berangkat ke Surabaya dan menetap disana.
Pada tahun 1952
beliau mendirikan sebuah harian yang bernama Rakyat Berjuang di Makassar
bersama dengan Bart Ratulangi. Beliau bersama sahabatnya Soemantro yang
kemudian menjadi wartawan TNI di Jakarta bahkan berhasil mendirikan sebuah
majalah dalam yang berbahasa inggris yaitu The SS Star di
Makassar .
Pada saat
organisasi Leguin Veteran Republik Indonesia (LVRI) terbentuk maka M. Jusuf
Arief dipilih sebagai anggota Pimpinana LVRI Sulselra di Makassar kemudian
menerbitkan lagi Surat kabar yang bernama Pelita Sulawesi yang membawa suara
Veteran Republik Indonesia di Sulawesi Selatan-Tenggara.
Sebelum beliau
meninggal sempat juga dikunjungi oleh Bung Tomo yang di temani oleh A.R. Tamma,
Musa (Direktur Utama DAMATEX), Aly Mulyadi Sekjen dari Markas Besar LVRI serta
teman-teman seperjuangannya, antara lain Jusuf Bauty (Mantan Ketua Umum Biro
PPRI), Andi Makkulau Opu Dg.Parebba (pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI),
Guli Daeng Malimpo (mantan peg.Dep. Dalam Negeri), Frans Karangan (mantan
anggota DPR-RI). Mursalin Daeng Mamangung ( Menteri Tenaga Kerja pada era
Soeharto) telah memberikan ucapan turut berduka cita atas meninggalnya M. Jusuf
Arief yang tidak sempat hadir karena pada waktu itu beliau sedang sakit. Begitu
juga Letjen. Sarbini Ketua Umum LVRI paa saat itu tidak sempat hadir karena
berhalangan.
Konferensi LVRI
seluruh Indonesia di Jakarta yang akan dilangsungkan pada tanggal 4s/d 7
January 1972, tidak sempat dihadiri oleh M. Jusuf Arief karena beliau sedang
dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta. Beliau menderita penyakit jantung.
Pada tanggal 10 January 1972 tepatnya pukul 12.00 siang, M. Jusuf Arief seorang
tokoh pejuang 45 di Sulawesi Selatan menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Jenazah beliau M.
Jusuf Arief diterbangkan ke Makassar pada tanggal 11 January 1972 dan disambut
secara Militer serta dimakamkan di Tamam Makam Pahlaawan Panaikang pada tanggal
12 January 1972 dengan diantar oleh ribuan orang ke tempat peristihatannya yang
terakhir untuk selama-lamnya.
BAB IV
ANDI TENRIADJENG
Kehidupan Masa Kecil
Andi
Tenriadjeng lahir pada bulan maret 1922 di Bua, 12 km sebelah selatan kota
palopo. Terlahir dari sebuah hati sang ayah Andi Busa Empong yang bergelar Opu
Daeng ri lekke’. Beliau anak sulung dari empat bersaudara. Dari sisi keturunan
bangsawan, adalah keturunan dari E tenriawaru Sultan Hawa’ Datu Luwu gelar
Pettamatintoe ri Tengngana Luwu.
Memasuki hari
ketiga lahirnya, diadakan haqiqah. Para bangsawan dan Pemuka agama tokoh
masyarakat yang ada di Bua dan sekitarnya (termasuk undangan dari Palopo) turut
serta dalam acara yang meriah itu. Pada hari itu, sang anak diberi nama Andi
Tenriadjeng.
Andi Tenriadjeng
dilahirkan dalam keluarga bangsawan yang berpegang teguh pada nilai-niai luhur
budaya Luwu/Bugis yang konsisten melaksanakan syariat Islam. Lingkungan
keluarga sangat taaat pada ajaran agama, patuh pada kerajaan (Datu), dan
mengamalkan nilai-niali budaya seperti tongeng, getteng, lempu, dan adele’.
Ajaran dan nilai-nilai itulah yang kemudian diturunkan kepada anaknya.
Pada saat
kanak-kanak, Andi Tenriadjeng telah aktif belajar agama dan mengaji pada
panrita-panrita yang ada di Bua. Ajaran-ajaran yang telah diterimanya itulah
yang lambat laun telah merubah watak, sikap, dan perilakunya. Ia tumbuh menjadi
anak yang lebih dewasa, cerdas dan berwibawa.
Pada tahun
1929, ia masuk sekolah tingkat Sekolah Rakyat (SR) selama 3 tahun di Bua.
Disekolah ia dikenal sebagai anak yang rajin, giat, cerdas dan pandai. Sifatnya
yang ramah, sabar, penyayang, suka membaantu dan dermawan membuat
rekan-rekannya sangat percaya padanya kaarena kejujuran yang dimilikinya. Pada
saat itulah sifat kepemimpinannya mulai muncul. Kelebihan yang dimilikinya yang
membuatnya berbeda dengan teman-temannya.
Membaca Al-Qur’an
adalah rutinitas kesehariannya setelah kembali sekolah. Setelah selesai mengaji
ia laangsung pergi main sepak bola bersama teman-temannya. Sepak bola adalah
saalah satu kegemarannya selain gassing, marraga (takraw), dan kecintaannya
dengan laagu-lagu daerah.
Setamat Sekolah Rakyat
pada tahun 1932, Andi Tenriadjeng melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah 6
tahun di palopo. Di daerah pusat kerajaan Luwu itu beliau tinggal di Istana.
Semenjak tinggal di Istana Kerajaan Luwu, Andi Tenriadjeng banyak belajar agama
dari kadhi Luwu, cendikiawan istana dan para bangsawan kerajaan. Walaupun ia
jarang berkomunikasi dengan datu Luwu Andi Kambo, tetapi ia sering mengamati
jaalannya tudang ade di istana dan mengamati jalannya pemerintahan kerajaan.
Di Istana, Andi Tenriadjeng
sering berkomunikasi dengan Andi Djemma sang putra mahkota Anak Mattola kerajaan.
Andi Djemma daalam sehaariannya memang dikenal merakyat. Oleh seBAB itu, Andi
Djemma sangat disenangi oleh rakyat. Tetapi sikap Andi Djemma yang merakyat itu
mendapaat perhaatian serius dari pihak Belanda. Sejak itu pula Andi Tenriadjeng
banyak belajar kepada Andi Djemma terutama dalam hal kepemimpinan dan
demokrasi. Apa yang didapatnya itu merupakan pelajaran yang sangat berharga
dari sang Anak Mattola kerajaan.
Peristiwa 23 January 1946
Merespon Berita Kemerdekaan
Setiap Negara
adalah berdaulat dan merdeka, yaitu kemerdekaan dimana suatu bangsa yang
didalamnya, rakyatnya mendapatkan penghidupan yang layaak bagi kemanusian.
Bentuklah dapat diwujudkan dalam “kebebasan” berbicara, berserikat, berkumpul
dan terlebih kemerdekaan dalam segala bentuk intimidasi, terror, serta
penindasan yang tidak berperikemanusian dan berperikeadilan. Intinya adalah
kemerdekaan dalam segala totaalitas kehidupan manusia.
Kemerdekaan yang
diproklamirkan Soekarno dan Hatta padA 17 August 1945 telah tersiar ke pelosok
tanah air. Namun, di Sulawesi, berita yang menggembirakan itu tidak sampai ke
semua daerah, khususnya ke beberapa daerah basis perjuangan kemerdekaan.
Sehubungan dengan hasil proklamasi kemerdekaan dan perkembangan politik
tersebut, maka di pandang perlu untuk menyebarkanluaskan berita itu.
Di Palopo
ibu Kota Kerajaan Luwu, berita tentang proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
dengan cepat tersebar. Meskipun berita itu ditanggapi secara ragu-ragu oleh
banyak pihak, tetapi hal itu tidak menurunkan semangat sebagian pemuda Luwu.
Selain itu tersebar juga beberapa pamflet di toko-toko, kantor dan tempat
strategis lainnya yang isinya mengancam kepada mereka yang pro kepada Belanda.
Waktu itu juga bermunculan kabar tentang kedatangan kembali pemerintahan
Belanda ke Indonesia termasuk kemungkinannya menginjakkan kakinya ke Luwu.
Propaganda bermunculan yang isinya meragukan kekuatan para pejuang dan pemuda
yang khususny yang ada di Kerajaan Luwu. Propaganda itu mengakibatkan situasi
kembali menjadi tegang.
Perubahan
situasi da kondisi politik yang tidak menentu dari hari kehari membuat pemuda
menetapakan langka straategis. Keyakinan pemuda dan pejuang tentang kedatangan
Belanda kelak, membuat mereka mengambil suatu gerakan antisipasi dengan
memperluas organisasi Soekarno Muda, dengan tujuan utamanya
untuk mempertahankan kemerdekaan. Dengan pertimbangan itu, pada tanggal 17
September 1945, organisasi Soekarno Muda dirubah menjadi Pemuda Nasional
Indonesia. Ruang lingkupnya pun bukan hanya meliputi kota Palopo saja seperti
pada masa Soekarno Muda tetapi lebih luas lagi meliputi onderaffdeeling Palopo.
Dalam sturktur organisasi ini, Andi Tenriadjeng dipercaya menjabat posisi
sebagai Kepala Penerjang. Dikalangan pemuda dan pejuang, beliau memang dikenal
sebagai pemuda yang progresif, militant, berani, ramah, tidak banyak bicara
tetapi banyak bekerja.
Perlawanan Rakyat Luwu Semesta 23 January 1946
Kemerdekaan
yang diproklamasiakan Soekarno-Hatta pada 17 August 1945 masih menyisahkan
dendam kesumat bagi Belanda. Kenyataan itu ditandai dengan keinginannya untuk
kembali menjajah Indonesia. Merespon kedatangan Belanda, di beberapa daerah
pemuda dan pejuang melakukan perlawanan diantaranya insiden bendera di
Surabaya, pertempuran 5 hari di Semarang, dan beberapa insiden lainnya.
Dari
beberapa posisi dalam organisasi yang dijabat oleh Andi Tenriadjeng seperti
kepala Penerjang di Pemuda Nasional Indonesia dan sebagai Kepala
Pemuda/Keamanan Rakyat di Pemuda Republik Indonesia menandakan bahwa beliau
memang merupakan pemuda yang gagah berani, konsiiten dengan perjuangan
pergerakan mempertahankan kemerdekaan, dan kemampuan manajerial terutama dalam
mengkoordinir para anggotanya.
Kota Palopo
sejak Desember 1945 hingga pertengahan January 1946 di kontorl oleh tiga
kekuatan, yaitu: Pemuda RI, sekutu unsure tentara Australia, dan KNIL.
Sedangkan di luar kota sepenuhnya dikuasi oleh pemuda kecuali Tana Toraja. Dengan
demekian Kerajaan Luwu secara umum tetap sebagai wilayah RI “de facto” dibawah
Datu Andi Djemma.
Pada tanggal
18-20 January KNIL menuju ke Bua dengan tujuan mencari senjata peninggalan
Jepang namun mereka gagal menemukan senjata sehingga melakukan pengrusakan
terhadap mesjid. Anggota KNIL memasuki Masjid dan menginjak-injak Al-Qur’an
serta mengobrak-abrik semua sudut dan loteng mesjid.
Kejadian di Bua
amat disesalkan Datu, masyarakat kuas dan pemuda. Pada tanggal 21 Januari
dikeluarkan ultimatum yang ditujukan kepada sekutu yang ditandatangani Andi
Djemma selaku Datu Luwu, H.M. Ramli atas nama umat Islam dan M. Jusuf Arief
atas nama pemuda. Isi ultimatum itu adalah “ Dalam tempo 2x24 jam, pihak
Australia memerintahkan kepada pasuakn-pasukan KNIL yang sedang berkeliaran
melakukan patroli di dalam dan di luar Palopo, supaya segera masuk tangsi dan
senjatanya. Jika batas waktu ini di tidak diindahkan, maka keteriban dan
keamanan tidak bisa dipertanggung jawabkan.






No comments:
Post a Comment